Negara paling optimistis dan pesimistis di dunia kembali menjadi sorotan setelah Gallup International merilis hasil End-of-Year Survey 2025. Survei ini memperlihatkan bagaimana publik global memandang tahun 2026, mulai dari harapan terhadap masa depan, kondisi ekonomi, hingga prospek perdamaian dunia. Hasilnya menunjukkan satu hal penting: optimisme global masih ada, tetapi tidak tersebar merata.
Survei tersebut dilakukan pada Oktober sampai Desember 2025 dengan melibatkan 59.636 responden dewasa di 60 negara. Secara metodologis, Gallup International menyebut mayoritas negara menggunakan sampel nasional, dengan pengumpulan data melalui wawancara tatap muka, telepon, maupun online. Ini membuat hasil survei cukup relevan untuk membaca arah sentimen publik global menjelang 2026.
Daftar Isi
Optimisme Global Masih Positif, Tetapi Mulai Melemah
Secara global, 37% responden meyakini 2026 akan menjadi tahun yang lebih baik daripada 2025. Di sisi lain, 25% merasa keadaan akan memburuk, sedangkan 31% memperkirakan tidak akan ada perubahan besar. Dengan komposisi ini, skor harapan bersih global masih positif di angka +11, tetapi tetap lebih rendah dibanding survei akhir 2024. Artinya, dunia masih menyimpan harapan, namun suasana optimistis tidak sekuat tahun sebelumnya.
Gallup International mencatat optimisme paling kuat terkonsentrasi di kawasan Global South, terutama negara-negara Arab, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin. Sebaliknya, suasana yang lebih muram banyak muncul di Eropa Barat dan Eropa Timur. Pola ini memperlihatkan bahwa persepsi terhadap masa depan sangat dipengaruhi oleh kondisi regional, tekanan ekonomi, dan stabilitas sosial-politik masing-masing negara.
Baca Juga: Masalah Pengangguran di Dunia dan Indonesia
Daftar Negara Paling Optimistis dan Pesimistis
Dalam kategori harapan umum terhadap tahun 2026, lima negara paling optimistis adalah Kenya, Suriah, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Kolombia. Sementara itu, lima negara paling pesimistis adalah Bulgaria, Bosnia dan Herzegovina, Austria, Belgia, dan Ghana. Temuan ini menunjukkan bahwa optimisme tidak selalu identik dengan negara maju, karena justru banyak negara berkembang tampil lebih positif dalam memandang tahun berikutnya.
Ekonomi Jadi Sumber Kekhawatiran Terbesar
Jika pertanyaan diarahkan pada ekonomi, suasananya berubah jauh lebih suram. Secara global, hanya 24% responden yang berharap 2026 menjadi tahun kemakmuran ekonomi, sedangkan 40% memperkirakan akan terjadi kesulitan ekonomi. Sebanyak 30% lainnya menilai keadaan ekonomi cenderung tetap. Dengan demikian, skor optimisme ekonomi global berada di angka -16, yang menandakan kecemasan ekonomi lebih dominan daripada harapan.
Gallup International menilai pesimisme ekonomi paling kuat muncul di negara-negara maju, terutama di kawasan Eropa Barat dan Eropa Timur. Sebaliknya, optimisme ekonomi lebih banyak ditemukan di negara-negara Arab, Asia Selatan, sebagian Afrika, dan beberapa wilayah Amerika Latin. Ini menegaskan bahwa persepsi publik terhadap ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh status negara maju atau berkembang, tetapi juga oleh ekspektasi masyarakat terhadap arah pemulihan dan peluang pertumbuhan.
Dalam aspek ekonomi, lima negara paling optimistis adalah Arab Saudi, Kenya, Suriah, Kolombia, dan Pakistan. Adapun lima negara paling pesimistis adalah Belgia, Prancis, Latvia, Ukraina, dan Jerman. Daftar ini memperkuat gambaran bahwa Eropa menjadi salah satu kawasan dengan tingkat kecemasan ekonomi tertinggi menjelang 2026.
Baca Juga: Selat Lifamatola Jadi Hotspot Pencampuran Laut Dalam, Ini Temuan BRIN
Perdamaian Dunia Dinilai Semakin Rapuh
Bukan hanya ekonomi, persepsi terhadap perdamaian dunia juga menunjukkan kecenderungan negatif. Secara global, 40% responden memperkirakan dunia akan menjadi lebih bermasalah pada 2026, sementara hanya 26% yang percaya situasi akan lebih damai. Sebanyak 28% menilai kondisi tidak akan banyak berubah. Hasil ini menghasilkan skor perdamaian bersih global sebesar -14, yang menandakan kecemasan geopolitik masih sangat kuat.
Harapan terhadap dunia yang lebih damai lebih banyak muncul di kawasan Arab, Asia Selatan, dan sebagian Afrika. Sebaliknya, pandangan paling suram muncul di Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australasia. Pola ini memperlihatkan bahwa persepsi publik soal keamanan global sangat dipengaruhi oleh kedekatan masyarakat dengan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian internasional.
Untuk kategori perdamaian dunia, lima negara paling optimistis adalah Suriah, Kenya, Arab Saudi, Peru, dan Armenia. Sementara lima negara paling pesimistis adalah Belanda, Jerman, Belgia, Yunani, dan Ghana. Dengan kata lain, sentimen negatif mengenai stabilitas global masih mendominasi banyak negara, khususnya di Eropa.
Anak Muda Masih Menjadi Kelompok Paling Optimistis
Dari sisi demografi, usia menjadi pembeda yang paling jelas. Gallup International mencatat kelompok usia di bawah 34 tahun masih cenderung optimistis, sedangkan kelompok usia 55 tahun ke atas justru menunjukkan kecenderungan pesimistis, baik terhadap masa depan umum, ekonomi, maupun perdamaian dunia. Perbedaan pandangan berdasarkan gender relatif kecil, sehingga faktor generasi terlihat jauh lebih menentukan daripada jenis kelamin.
Temuan ini memberi sinyal bahwa generasi muda masih menyimpan harapan lebih besar terhadap perubahan, sementara kelompok usia yang lebih tua cenderung melihat masa depan dengan kewaspadaan yang lebih tinggi. Dalam konteks global, optimisme memang belum hilang, tetapi semakin selektif dan banyak dipengaruhi oleh lokasi geografis, kondisi ekonomi, serta usia responden.
Kesimpulan
Survei internasional ini memperlihatkan bahwa dunia memasuki 2026 dengan perasaan campur aduk. Pada level umum, optimisme masih sedikit lebih besar daripada pesimisme. Namun ketika berbicara soal ekonomi dan perdamaian dunia, kekhawatiran tampak lebih dominan. Negara-negara di Global South cenderung lebih optimistis, sedangkan banyak negara Eropa justru lebih pesimistis. Di saat yang sama, generasi muda tetap menjadi kelompok yang paling percaya bahwa masa depan masih bisa membaik.

