Satu pertanyaan besar yang sering muncul di ruang akademik dan kebijakan: kenapa riset Indonesia terlihat “ramai”, tapi dampaknya belum terasa kuat di panggung global dan ekonomi? Salah satu cara paling “dingin” untuk membacanya adalah lewat pemeringkatan yang memang hanya menilai riset—bukan reputasi, bukan popularitas.
Salah satunya CWTS Leiden Ranking (Traditional Edition), yang menghitung performa universitas berbasis publikasi dan sitasi dari basis data Web of Science. Edisi Traditional 2025 memuat 1.594 universitas dari 77 negara, dengan ambang masuk minimal 800 publikasi jurnal internasional (“core publications”) pada periode 2020–2023.
Di sisi lain, Indonesia punya ekosistem kampus yang sangat besar. Data PDDikti yang dikutip Kemdiktisaintek menyebut 4.687 perguruan tinggi (statistik PDDikti) — namun “besar” tidak otomatis berarti “kuat secara riset”.
Daftar Isi
- 1 1) “Masuk Ranking” Itu Bukan Sekadar Gengsi—Tapi Soal Ambang dan Dampak
- 2 2) Akar Masalah: Riset Kita Sering Tidak Nyambung ke Strategi Ekonomi
- 3 3) Kenapa Dampak Sitasi Kita Sering Rendah?
- 4 4) Solusi: Berani Memilih Fokus (Bukan Meratakan Semua)
- 5 5) Roadmap Praktis: Naikkan “Impact” Tanpa Mengarang Data
- 6 Butuh Dibantu Biar Risetnya Nggak Berhenti di “Draft”?
- 7 FAQ
1) “Masuk Ranking” Itu Bukan Sekadar Gengsi—Tapi Soal Ambang dan Dampak
Banyak orang mengira “tidak muncul di ranking” = “tidak riset”. Padahal pada Leiden Traditional, banyak institusi memang tidak lolos ambang minimal output publikasi (≥800 artikel/review di jurnal internasional inti).
Lalu, bagi yang sudah masuk, pertanyaan berikutnya adalah dampak. Di Leiden, salah satu indikator yang sering dipakai adalah PP(top 10%): proporsi publikasi universitas yang masuk 10% artikel paling sering disitasi di bidangnya dan tahun publikasinya.
Jadi problem Indonesia biasanya muncul di dua level:
- Level “masuk ambang”: belum banyak kampus yang publikasinya konsisten dan cukup besar di jurnal inti internasional.
- Level “impact”: publikasi ada, tetapi proporsi yang benar-benar “top-cited” masih relatif kecil.
Catatan: Ada juga Leiden Ranking Open Edition (diluncurkan 2024) yang berbasis OpenAlex dan lebih inklusif (lebih banyak universitas tercakup). Ini penting agar diskusi tidak bias hanya dari satu “kaca mata data”.
2) Akar Masalah: Riset Kita Sering Tidak Nyambung ke Strategi Ekonomi
Di ekonomi modern, riset bukan “kewajiban administrasi”, tetapi aset produktif: menggerakkan inovasi, paten, efisiensi industri, dan penciptaan nilai tambah.
Yang sering terjadi di Indonesia:
- Publikasi jadi target administratif (KPI, akreditasi, BKD, insentif), bukan bagian dari peta jalan teknologi/industri.
- Tema riset tersebar: banyak topik, sedikit yang dibangun sampai “mendalam” dan berkelanjutan.
- Hilirisasi tersendat: riset berhenti di paper; kolaborasi industri lemah; paten/produk/standardisasi tidak jadi prioritas bersama.
Hasilnya, riset tumbuh secara volume, tetapi sulit membentuk massa kritis yang mengubah produktivitas nasional.
Baca Juga: Customer & Market Understanding untuk Strategi Marketing yang Lebih Tajam
3) Kenapa Dampak Sitasi Kita Sering Rendah?
Berikut penyebab yang paling sering terlihat (dan realistis untuk diperbaiki):
A. Fragmentasi sumber daya
Dana, fasilitas, dan talenta tersebar ke terlalu banyak institusi/unit riset, sehingga:
- lab tidak “naik kelas”,
- riset tidak berkesinambungan,
- output tidak fokus pada frontier.
B. Strategi publikasi yang “asal tembus”
Banyak tim riset tidak punya:
- peta jurnal target (scope, audience, novelty threshold),
- standar narasi akademik yang kuat (argumentasi, gap, kontribusi),
- disiplin kualitas (metode, data, reproducibility).
Akhirnya paper masuk jurnal yang dampaknya kecil—atau topiknya terlalu lokal tanpa framing global.
C. Kolaborasi internasional dan industri belum jadi default
Padahal kolaborasi sering mempercepat kualitas (akses data/metode/peer-review culture) dan membuka peluang sitasi.
D. Research mapping lemah
Tanpa bibliometric mapping dan “peta gap”, riset sering mengulang topik yang sudah jenuh atau tidak punya novelty yang jelas.
4) Solusi: Berani Memilih Fokus (Bukan Meratakan Semua)
Kalau targetnya daya saing, kuncinya bukan “semua naik bersama” dengan cara yang sama—melainkan fokus dan diferensiasi peran.
A. Level kebijakan/kampus (strategis)
- Bentuk center of excellence lintas fakultas untuk 3–5 tema prioritas (bukan 30 tema).
- Dana berbasis milestone (dataset, prototipe, publikasi Q1/Q2, paten, standardisasi).
- “Karier peneliti” yang jelas: jalur riset murni vs jalur pengajaran (dua-duanya penting, tapi KPI-nya berbeda).
B. Level peneliti/tim riset (taktis, 90–180 hari)
- Research mapping topik (tren, cluster, gap) → tetapkan novelty.
- Buat target journal list (A/B/C) + template struktur artikel.
- Jalankan writing sprint (2–4 minggu) + internal peer review.
- Siapkan “paket submit” lengkap: cover letter, graphical abstract (jika diminta), data availability, cek etik/sitasi, dan similarity report.
5) Roadmap Praktis: Naikkan “Impact” Tanpa Mengarang Data
Kalau Anda (atau tim Anda) ingin memperkuat kualitas riset secara nyata, fokus pada 3 hal ini:
- Pertajam pertanyaan riset: satu paper = satu kontribusi utama.
- Bangun novelty yang terukur: gap jelas + mengapa penting untuk komunitas ilmiah global.
- Perkuat positioning jurnal: jangan menulis dulu baru cari jurnal; justru “jurnal target” memandu gaya argumentasi.
Butuh Dibantu Biar Risetnya Nggak Berhenti di “Draft”?
Kalau Anda ingin riset lebih rapi, terarah, dan siap submit (tanpa buang waktu trial-error), Britter bisa bantu lewat:
- coaching penulisan artikel sampai siap submit (format pertemuan bertahap),
- research mapping/bibliometrik (VOSviewer/OpenAlex) untuk menemukan gap dan novelty,
- strategi pemilihan jurnal & screening jurnal predator,
- review struktur Results–Discussion, konsistensi sitasi (APA 7), dan kesiapan dokumen submit.
FAQ
Leiden Ranking menilai universitas berbasis indikator bibliometrik (publikasi dan sitasi), termasuk proporsi publikasi yang masuk 10% paling sering disitasi.
Karena ada ambang seleksi: minimal 800 publikasi jurnal internasional inti pada periode 2020–2023 (artikel & review), menggunakan Web of Science.
Traditional memakai Web of Science; Open Edition (diluncurkan 2024) memakai OpenAlex dan mencakup lebih banyak universitas.
Mulai dari research mapping, pilih jurnal target sejak awal, lalu writing sprint dengan internal peer-review.
