Menyusun Tax Planning

Dasar Cara Menyusun Tax Planning: Panduan Praktis untuk Bisnis

Tax planning (perencanaan pajak) adalah upaya meningkatkan efisiensi beban pajak melalui pengaturan transaksi dan aktivitas keuangan tanpa melanggar ketentuan perpajakan. Tujuannya sederhana: pajak dibayar benar, tepat, dan seefisien mungkin—sehingga cashflow lebih sehat, risiko sanksi lebih rendah, dan keputusan bisnis lebih terukur.

Agar tax planning Anda tidak sekadar “niat baik” tetapi benar-benar bisa dieksekusi, Anda perlu memahami fondasi: jenis pajak yang relevan, alur transaksi, opsi perlakuan pajak yang legal, dan siklus review-evaluasi yang disiplin.

1) Pengertian Tax Planning

Tax planning adalah strategi legal untuk meminimalkan beban pajak dengan memanfaatkan fasilitas, pilihan perlakuan pajak, serta pengelolaan timing transaksi yang tetap sesuai regulasi. Dalam praktik bisnis, tax planning bukan “menghilangkan pajak”, melainkan mengatur agar pajak yang timbul tidak lebih besar dari yang seharusnya karena salah desain transaksi, salah administrasi, atau salah timing.

2) Bedanya Tax Planning, Tax Avoidance, dan Tax Evasion

Banyak bisnis “terlihat” melakukan tax planning, padahal yang terjadi adalah administrasi lemah atau justru mengarah ke praktik berisiko. Secara garis besar:

  • Tax planning: sah/legal, patuh aturan.
  • Tax avoidance: secara formal bisa legal, tetapi sering berada di “area abu-abu” (berpotensi dinilai agresif).
  • Tax evasion: ilegal/pelanggaran (misalnya penggelapan/pemalsuan/penghindaran dengan melanggar ketentuan).

DJP sendiri menegaskan tax planning dan tax avoidance bersifat sah selama tidak melanggar ketentuan, sedangkan tax evasion adalah pelanggaran.

AspekTax PlanningTax AvoidanceTax Evasion
StatusLegalBisa legal tapi berisiko/abu-abuIlegal
CaraMemilih opsi yang disediakan aturanMemanfaatkan celah/ketidaksempurnaan aturanManipulasi/fiktif/tidak lapor
RisikoRendah (jika dokumentasi kuat)Sedang–tinggi (tergantung agresivitas)Sangat tinggi (sanksi pidana/administratif)
KunciKepatuhan + bukti transaksiArgumen & substansi bisnis harus kuatMelanggar aturan

Catatan penting: Indonesia juga menguatkan pendekatan anti-penghindaran agresif (mis. prinsip anti-avoidance/GAAR dalam rezim HPP), sehingga desain tax planning sebaiknya berbasis substansi bisnis dan dokumentasi yang rapi.

Baca Juga: Coretax DJP: Pengertian, Fitur Utama, dan Cara Pakai

3) Tujuan dan Manfaat Tax Planning

Tujuan utama

  1. Efisiensi beban pajak (tax burden) serendah mungkin secara legal.
  2. Memaksimalkan laba setelah pajak (after-tax return) agar ruang investasi/ekspansi lebih besar.
  3. Menjaga kepatuhan agar terhindar dari sanksi, koreksi, dan sengketa pajak.

Manfaat yang biasanya terasa langsung

  • Cashflow lebih stabil karena pajak dapat diproyeksikan dan diatur timing-nya.
  • Risiko “biaya pajak mendadak” turun (koreksi, denda administrasi, bunga).
  • Administrasi lebih rapi: bukti potong, faktur, rekonsiliasi, hingga SPT lebih mudah.

4) Prinsip Dasar Menyusun Tax Planning

Tax planning yang sehat biasanya bertumpu pada tiga pilar berikut:

  1. Efisiensi
    Mengoptimalkan tarif, fasilitas, dan pilihan perlakuan pajak yang paling efisien untuk model bisnis Anda.
  2. Kepatuhan (Tax Compliance)
    Desainnya harus patuh: basis aturan jelas, transaksi riil, dan dokumentasi lengkap.
  3. Aktivitas Keuangan (Business-Driven)
    Tax planning bukan “trik pajak”, melainkan turunan dari rencana bisnis: penjualan, pembelian, pendanaan, payroll, proyek, kontrak, dan investasi.

Dengan kata lain: pajak mengikuti transaksi, bukan transaksi yang dipaksa mengikuti pajak.

5) Mengetahui Jenis Pajak yang Menjadi Kewajiban

Langkah paling mendasar sebelum menyusun tax planning adalah membuat peta: pajak apa saja yang relevan dengan aktivitas bisnis Anda.

A. Pajak Penghasilan (PPh)

PPh timbul karena ada penghasilan. Di praktik perusahaan, area yang sering muncul:

  • PPh 21/26: payroll/imbalan orang pribadi
  • PPh 23/26: jasa, sewa, royalti, dll.
  • PPh Final (mis. Pasal 4 ayat (2)): tergantung jenis penghasilan/objek tertentu
  • Angsuran PPh (mis. Pasal 25) dan penyesuaian akhir tahun
  • Pajak atas transaksi tertentu (mis. PPh 22) sesuai karakter bisnis

Fokus tax planning PPh biasanya berkisar pada: struktur biaya, klasifikasi objek pajak, pengaturan kontrak, dan kelengkapan bukti pemotongan/pemungutan.

B. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

PPN terkait nilai tambah atas BKP/JKP dan sangat dipengaruhi status PKP, tata cara faktur, serta pengkreditan pajak masukan.

Kunci tax planning PPN biasanya:

  • ketepatan penerbitan faktur,
  • kelayakan kredit pajak masukan,
  • rekonsiliasi pajak masukan-keluaran,
  • pengelolaan vendor (PKP/non-PKP) sesuai kebutuhan.

C. Pajak Daerah dan Kepabeanan/Cukai (jika relevan)

Jika bisnis Anda menyentuh properti, kendaraan, reklame, atau aktivitas impor—maka pajak daerah dan kepabeanan/cukai perlu masuk dalam desain tax planning karena dampaknya bisa signifikan terhadap biaya total.

6) Siklus Tax Planning (End-to-End)

Tax planning yang rapi biasanya berjalan dalam satu siklus berikut:

  1. Mapping aktivitas & transaksi (apa saja alur uang/kontrak)
  2. Identifikasi titik pajak (objek, subjek, tarif, saat terutang)
  3. Pilih opsi perlakuan pajak yang legal dan paling efisien
  4. Tetapkan SOP & kontrol (siapa melakukan apa, dokumen apa, kapan)
  5. Tax compliance bulanan (eksekusi disiplin)
  6. Tax review berkala (mis. triwulanan/semesteran/tahunan)
  7. Evaluasi & perbaikan (menyesuaikan perubahan aturan dan realisasi bisnis)

Siklus ini selaras dengan pendekatan perbaikan kualitas berkelanjutan—dan pada konteks konten (SEO) pun Google menekankan evaluasi serta perbaikan konten yang membantu pengguna.

7) Langkah Praktis Menyusun Tax Planning (Checklist Siap Pakai)

Langkah 1 — Audit cepat aktivitas keuangan

Buat daftar alur berikut (minimal):

  • sumber pendapatan utama (produk/jasa, proyek, langganan, komisi)
  • pola penagihan (DP, termin, monthly invoice, milestone)
  • pola pembayaran (tempo, cicilan, escrow)
  • pola pembelian (vendor PKP/non-PKP, impor/lokal)
  • payroll & benefit karyawan
  • pendanaan (modal, pinjaman, bunga, leasing)

Output yang Anda cari: flow transaksi + dokumen yang menyertainya.

Langkah 2 — Tentukan titik pajak untuk setiap alur

Untuk tiap alur transaksi, jawab:

  • pajak apa yang timbul (PPh/PPN/pajak daerah)?
  • siapa memotong/memungut?
  • kapan saat terutang?
  • dokumen wajibnya apa (invoice, faktur pajak, bukti potong, kontrak, BAST, dll.)?

Langkah 3 — Pilih opsi perlakuan pajak yang efisien (tanpa keluar jalur kepatuhan)

Contoh area yang sering punya opsi:

  • desain benefit karyawan (komponen yang berdampak pemotongan)
  • desain kontrak jasa/termin proyek (pengaruh PPh/PPN & timing)
  • desain vendor management (kelayakan PPN masukan)
  • pilihan kebijakan akuntansi tertentu yang berdampak pajak (sesuai ketentuan)

Kuncinya: pilih sekali, lalu konsisten, dan pastikan seluruh tim terkait mengikuti SOP.

Langkah 4 — Terapkan Tax Compliance bulanan yang disiplin

Minimal Anda punya:

  • kalender pajak internal (jatuh tempo pelaporan & pembayaran)
  • format rekonsiliasi (penjualan vs faktur vs kas; pembelian vs masukan; payroll vs bukti potong)
  • kontrol dokumen (folder, penomoran, approval)

Langkah 5 — Tax review berkala + evaluasi

  • Jika transaksi kompleks/volume tinggi: review triwulanan
  • Jika relatif stabil: review semesteran/tahunan
    Tujuannya: menemukan deviasi sedini mungkin sebelum jadi koreksi besar.

8) Contoh Strategi Tax Planning yang Legal (PPh & PPN)

Berikut contoh yang umum dan legal, dengan catatan: implementasi harus disesuaikan industri dan fakta transaksi.

A. Mengelola timing transaksi dan dokumen (cashflow pajak)

  • Menyelaraskan timeline invoice, BAST, dan penerbitan faktur agar pajak tidak “maju” sementara kas belum masuk (tetap sesuai ketentuan saat terutang).
  • Mengurangi risiko mismatch antara dokumen komersial vs pajak.

B. Optimalisasi PPN masukan yang dapat dikreditkan

  • Memilih vendor yang mendukung kebutuhan kredit pajak (mis. vendor PKP bila Anda membutuhkan PPN masukan).
  • Memastikan kelengkapan dokumen dan rekonsiliasi agar kredit pajak tidak gugur.

C. Menutup celah administrasi PPh pemotongan

  • Memastikan transaksi jasa/sewa/royalti yang menjadi objek pemotongan memiliki bukti potong yang benar.
  • Menghindari biaya menjadi “tidak dapat dibebankan” hanya karena bukti administrasi lemah.

D. Memanfaatkan fasilitas/insentif yang berlaku (bila memenuhi syarat)

  • Banyak perusahaan rugi bukan karena tidak ada insentif, tetapi karena tidak menyiapkan dokumen dan prosedur sejak awal.

E. Untuk transaksi lintas negara (bila ada)

  • Menilai relevansi tax treaty dan dokumentasi pendukung agar perlakuan pajak sesuai ketentuan.

Baca Juga: Coretax System: 7 Perubahan Penting dan Checklist Persiapan Wajib Pajak

9) Risiko, Dokumentasi, dan Tata Kelola (Agar Tax Planning “Aman”)

Tax planning yang bagus selalu punya 3 pelindung:

  1. Substansi bisnis jelas
    Ada alasan komersial yang masuk akal, bukan semata memindahkan beban pajak.
  2. Dokumentasi lengkap
    Kontrak, invoice, BAST, bukti bayar, bukti potong, faktur pajak, korespondensi—semua rapi.
  3. Kontrol internal & review
    SOP dijalankan, ada approval, dan ada review periodik.

Karena ketika terjadi pemeriksaan/sengketa, yang “berbicara” adalah fakta transaksi dan bukti, bukan opini.

FAQ

1. Tax planning itu legal atau tidak?
Legal selama tidak melanggar ketentuan perpajakan dan transaksinya nyata serta terdokumentasi. DJP membedakan tax planning (sah) dengan tax evasion (pelanggaran).

2. Apa bedanya tax planning dan tax avoidance?
Tax planning fokus pada pilihan yang disediakan aturan dan kepatuhan. Tax avoidance cenderung memanfaatkan celah dan bisa dinilai agresif tergantung substansi dan niatnya.

3. Kapan sebaiknya bisnis mulai tax planning?
Sejak awal bisnis berjalan—minimal saat mulai rutin bertransaksi, merekrut karyawan, atau menjadi PKP.

4. Apakah UMKM perlu tax planning?
Perlu, karena tax planning juga mencakup pengelolaan administrasi, bukti transaksi, dan kalender pajak agar tidak terkena sanksi.

5. Apa output tax planning yang “benar”?
Peta kewajiban pajak, SOP, kalender pajak, checklist dokumen, skema perlakuan pajak untuk transaksi utama, dan format rekonsiliasi.

6. Tax planning dilakukan oleh siapa?
Idealnya kolaborasi: finance/accounting + operasional + legal/kontrak + PIC pajak (internal atau konsultan).

7. Seberapa sering tax review dilakukan?
Minimal tahunan, namun untuk volume tinggi atau transaksi kompleks sebaiknya triwulanan/semesteran.

8. Risiko terbesar tax planning itu apa?
Desain bagus tapi tidak dijalankan (SOP tidak dipatuhi), dokumen tidak lengkap, atau transaksi tidak punya substansi bisnis yang kuat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top