Riset Bisnis

Riset Bisnis: Mitos, Realita, dan Manfaatnya bagi Pelaku Usaha

Banyak orang memulai bisnis karena melihat tren yang sedang ramai. Mulai dari makanan kekinian, minuman viral, skincare, laundry, hingga bisnis online, semuanya sering terlihat menjanjikan dari luar. Namun, ide yang terlihat menarik belum tentu sesuai dengan kebutuhan pasar.

Di sinilah riset bisnis menjadi penting. Riset membantu pelaku usaha memahami siapa target pasarnya, apa masalah konsumen, berapa harga yang sesuai, serta strategi penawaran seperti apa yang lebih tepat. Dengan riset, keputusan bisnis tidak hanya dibuat berdasarkan feeling, tren sesaat, atau asumsi yang belum tentu benar.

Riset bisnis juga tidak selalu rumit, mahal, atau hanya cocok untuk perusahaan besar. Untuk bisnis pemula dan UMKM, riset bisa dimulai dari cara sederhana, seperti mengamati calon pembeli, membaca ulasan konsumen, membandingkan harga kompetitor, mewawancarai pelanggan, atau menguji produk dalam skala kecil.

Apa Itu Riset Bisnis?

Riset bisnis adalah proses mengumpulkan dan menganalisis informasi untuk membantu pelaku usaha mengambil keputusan yang lebih tepat. Informasi ini bisa berkaitan dengan pelanggan, kompetitor, harga, tren pasar, kebutuhan konsumen, hingga peluang pengembangan produk.

Misalnya, seseorang yang ingin membuka bisnis rice bowl tidak harus langsung menyewa tempat, membeli banyak bahan baku, dan membuat menu lengkap. Ia bisa memulai dengan menjual 20 porsi percobaan, lalu meminta masukan dari calon pembeli tentang rasa, harga, porsi, dan kemasan.

Cara sederhana seperti ini sudah termasuk bagian dari riset bisnis. Tujuannya bukan untuk mencari jawaban yang sempurna, tetapi untuk mengurangi risiko kesalahan sebelum bisnis berjalan lebih jauh.

Baca Juga: Customer & Market Understanding untuk Strategi Marketing yang Lebih Tajam

Mitos tentang Riset Bisnis

1. Riset hanya berupa survei

Salah satu mitos yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa riset hanya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner. Padahal, riset bisnis bisa dilakukan dengan banyak cara.

Pelaku usaha dapat melakukan observasi, wawancara, uji coba produk, membaca ulasan konsumen, membandingkan kompetitor, hingga mengamati perilaku pembelian. Dalam kajian pemasaran, customer insight dapat diperoleh melalui berbagai proses, seperti observing, testing, co-creating, interpreting, deciding, dan tracking, bukan hanya melalui survei (Stremersch et al., 2025).

Artinya, riset tidak harus selalu dimulai dari kuesioner panjang. Untuk bisnis kecil, riset justru bisa dimulai dari pertanyaan sederhana: siapa calon pembeli kita, apa yang mereka butuhkan, dan apa alasan mereka memilih produk tertentu?

2. Riset selalu mahal dan memakan waktu lama

Banyak pelaku usaha merasa riset hanya bisa dilakukan jika memiliki anggaran besar. Padahal, untuk bisnis pemula, riset bisa dilakukan secara bertahap dan menyesuaikan kemampuan.

Contohnya, calon pelaku bisnis dessert box bisa membuat tiga varian rasa terlebih dahulu, lalu mengujinya kepada 20–30 calon pembeli. Dari sana, ia bisa mengetahui varian mana yang paling disukai, harga mana yang masih diterima, dan kemasan seperti apa yang dianggap menarik.

Pendekatan ini sejalan dengan konsep eksperimen bisnis. Bocken dan Snihur (2020) menjelaskan bahwa eksperimen dapat membantu pelaku usaha menguji hipotesis, mengurangi ketidakpastian, dan belajar secara bertahap dari pasar.

3. Riset hanya dibutuhkan oleh perusahaan besar

Riset bisnis bukan hanya untuk perusahaan besar. Justru, bisnis kecil dan UMKM sangat membutuhkan riset karena modal, waktu, dan tenaga yang dimiliki biasanya lebih terbatas.

Misalnya, seseorang yang ingin menjual sambal kemasan perlu mengetahui siapa target konsumennya. Apakah produknya ditujukan untuk anak kos, ibu rumah tangga, pekerja kantor, atau pemilik usaha makanan? Setiap target memiliki kebutuhan berbeda, mulai dari ukuran kemasan, tingkat kepedasan, harga, hingga cara promosi.

Studi Abrokwah-Larbi (2024) menunjukkan bahwa fokus pada pelanggan memiliki dampak positif terhadap kinerja UMKM. Artinya, semakin baik pelaku usaha memahami pelanggan, semakin besar peluang bisnisnya untuk berkembang dengan strategi yang tepat.

4. Riset selalu memberikan jawaban yang pasti

Riset tidak selalu memberikan jawaban yang pasti 100 persen. Pasar bisa berubah, tren bisa bergeser, dan perilaku konsumen bisa berbeda dari perkiraan awal. Namun, riset tetap membantu pelaku usaha mengurangi asumsi yang terlalu besar.

Sebagai contoh, hasil riset mungkin menunjukkan bahwa banyak orang tertarik pada minuman rendah gula. Namun, produk tersebut tetap perlu diuji lagi dari sisi rasa, harga, kemasan, dan promosi.

Dengan kata lain, riset bukan jaminan bisnis pasti berhasil. Namun, riset membantu pelaku usaha mengambil keputusan dengan dasar yang lebih jelas.

Baca Juga: Mengapa Riset Indonesia Belum Jadi Mesin Daya Saing?

Realita tentang Riset Bisnis

1. Riset memiliki banyak metode

Riset bisnis tidak terbatas pada survei. Pelaku usaha bisa menggunakan wawancara pelanggan, observasi kompetitor, uji coba produk, eksperimen harga, analisis ulasan online, atau membaca pola pembelian konsumen.

Contohnya, pelaku bisnis laundry bisa mengamati jumlah kos-kosan di sekitar lokasi, bertanya kepada penghuni kos tentang kebiasaan mencuci, lalu membandingkan harga laundry kompetitor. Dari data sederhana tersebut, pelaku usaha bisa menentukan layanan, harga, dan promosi yang lebih relevan.

2. Riset dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran

Riset bisnis tidak harus langsung besar. Jika bisnis baru ingin menjual parfum lokal, pelaku usaha bisa menguji tiga aroma terlebih dahulu kepada calon pembeli. Dari sana, ia bisa melihat aroma mana yang paling disukai, kemasan seperti apa yang menarik, dan harga berapa yang masih dianggap wajar.

Pendekatan seperti ini membantu pelaku usaha mengambil keputusan secara bertahap. Bisnis tidak perlu langsung memproduksi dalam jumlah besar sebelum mengetahui respons pasar.

3. Riset penting untuk bisnis kecil maupun besar

Bisnis kecil membutuhkan riset untuk menghindari kesalahan sejak awal. Sementara itu, bisnis besar membutuhkan riset agar strategi tetap relevan dengan perubahan kebutuhan konsumen.

Misalnya, bisnis minuman kekinian perlu mengetahui apakah konsumennya lebih peduli pada harga murah, rasa yang unik, kemasan estetik, atau pilihan rendah gula. Informasi seperti ini penting untuk menentukan strategi produk, harga, komunikasi, dan promosi.

Varadarajan (2020) menjelaskan bahwa informasi pelanggan dan kemampuan menganalisis informasi tersebut dapat mendukung strategi pemasaran, keunggulan kompetitif, dan kinerja bisnis.

4. Riset membantu mengurangi ketidakpastian

Dalam bisnis, keputusan tidak sebaiknya hanya dibuat berdasarkan feeling. Riset membantu menjawab pertanyaan penting seperti siapa target pasar yang paling potensial, apa masalah pelanggan, berapa harga yang sesuai, dan apa alasan pelanggan memilih kompetitor.

Misalnya, sebelum membuka bisnis hampers, pelaku usaha perlu mengetahui apakah target pasarnya perusahaan, pembeli personal, atau reseller. Masing-masing target memiliki kebutuhan berbeda, sehingga strategi penawaran juga tidak bisa disamakan.

Dengan riset bisnis, keputusan menjadi lebih terarah, risiko bisa dikurangi, dan strategi dapat disusun berdasarkan data, bukan sekadar asumsi. Studi Brecht et al. (2021) juga menunjukkan bahwa eksperimen bisnis dapat membantu startup mengurangi ketidakpastian dalam menemukan model bisnis yang tepat.

Kesimpulan

Riset bisnis bukan sekadar aktivitas akademis atau kebutuhan perusahaan besar. Riset adalah langkah penting bagi pelaku usaha untuk memahami pasar, pelanggan, kompetitor, dan peluang bisnis secara lebih jelas.

Bagi UMKM dan bisnis pemula, riset bisa dimulai dari langkah sederhana. Mengamati pelanggan, mencoba produk dalam skala kecil, membaca ulasan, membandingkan kompetitor, atau bertanya langsung kepada calon pembeli sudah dapat menjadi dasar pengambilan keputusan.

Bisnis memang tidak pernah bebas dari risiko. Namun, dengan riset, pelaku usaha dapat mengurangi ketidakpastian, menghindari keputusan yang hanya berdasarkan asumsi, dan menyusun strategi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Referensi

Abrokwah-Larbi, K. (2024). The impact of customer-focus on the performance of business organizations: Evidence from SMEs in an emerging West African economy. African Journal of Economic and Management Studies, 15(1), 31–59. https://doi.org/10.1108/AJEMS-04-2022-0167

Bocken, N., & Snihur, Y. (2020). Lean Startup and the business model: Experimenting for novelty and impact. Long Range Planning, 53(4), Article 101953. https://doi.org/10.1016/j.lrp.2019.101953

Brecht, P., Hendriks, D., Stroebele, A., Hahn, C. H., & Wolff, I. (2021). Discovery and validation of business models: How B2B startups can use business experiments. Technology Innovation Management Review, 11(3), 17–31. https://doi.org/10.22215/timreview/1426

Stremersch, S., Cabooter, E., Guitart, I. A., & Camacho, N. (2025). Customer insights for innovation: A framework and research agenda for marketing. Journal of the Academy of Marketing Science, 53(1), 29–51. https://doi.org/10.1007/s11747-024-01051-8

Varadarajan, R. (2020). Customer information resources advantage, marketing strategy and business performance: A market resources based view. Industrial Marketing Management, 89, 89–97. https://doi.org/10.1016/j.indmarman.2020.03.003

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top